avoidant o avoidant.. :)

this post is a short explaination of avoidant personality i gathered from Ms. Syachdan, a Master Degree student at Faculty of Pshycology, UNPAD BAndung. So far, i feel that this is me, but not not me at all.🙂

AVOIDANT PERSONALITY

 

Mungkin anda pernah melihat ada orang yang dalam kelas kelihatannya sungguh-sungguh ingin berpartisipasi dalam diskusi, tapi tidak banyak bicara bahkan hampir tidak bicara sama sekali, merasa canggung dan tidak nyaman ketika harus berbicara. Ada juga yang sepanjang pesta, orang tersebut hanya duduk diam di pojok mengharapkan orang datang menghampiri dan mengajaknya mengobrol. Seseorang seperti ini yang tertutup, menjaga jarak, penuh dengan keragu-raguan, takut dihina, tidak berani menghadapi orang lain, kikuk dan tidak senang terlibat dalam suatu persaingan karena semua hal tersebut dirasakan kurang nyaman. Individu dengan ciri-ciri seperti ini menunjukkan  pola avoidant personality (Kepribadian Penghindar). Individu ini hanya memiliki satu atau dua orang teman yang mereka percayai, menyendiri dan membuat diri mereka sendiri nyaris tidak terlihat, kasar namun sensitif terhadap kritik dari orang lain. Mereka membesar-besarkan potensi ancaman sehingga mereka sampai harus mengorbankan potensi kemajuan diri sendiri. Mereka menolak setiap perubahan dalam hidup yang bisa membuat mereka lebih terbuka dalam interaksi sosial. Namun di sisi lain, mereka sangat mendambakan cinta sejati, kedekatan yang tulus, kebahagiaan serta kepuasaan hidup. Mereka menganggap jiwa mereka terlalu hina hingga mereka harus menarik diri ke ruang privasi mereka, dimana mereka sendirian dengan segala kekurangan mereka.

Individu dengan avoidant personality selalu merasa di bawah ancaman dan waspada bila harus berinteraksi dengan orang lain. Mereka sangat peka terhadap evaluasi negatif, ragu-ragu apakah mereka mampu berbuat sesuatu untuk orang lain, dan karena itu mereka merasa takut untuk berinteraksi dengan orang yang belum mereka kenal. Pada individu ini, hipersensitifitas dalam tingkatan tertentu membuat panik ketika harus berinteraksi karena ia merasa ada tatapan tajam dari orang lain terhadap dirinya. Kesadaran diri meyakinkan ia bahwa orang lain berniat menyakitinya, dalam pikirannya ini dapat terjadi berulangkali, dan kecemasannya makin lama makin meningkat sehingga memaksanya untuk melarikan diri. Avoidant personality juga menganggap perhatian dari orang lain merupakan suatu hal yang buruk dan merasa harus segera kabur demi rasa aman mereka.

 

Bagi avoidant personality, kebenaran eksistensial tidak penting, satu-satunya cara untuk menjadi diri sendiri bukan dengan cara dikenal, setidaknya jika ingin selamat dan menyelamatkan kualitas marginal hidup. Mereka menghambat diri dan menarik diri ke tempat dimana ia bisa menyendiri sehingga merasa aman. Mereka harus selalu memperhatikan orang lain, tetapi orang lain tidak harus memperhatikan seorang avoidant personality. Mereka bisa sangat kreatif di kehidupan pribadi atau menjadi pahlawan dalam fantasi mereka, namun dalam dunia yang nyata lebih baik kalau tidak mencoba melakukan sesuatu yang mungkin menarik atensi orang terhadap dirinya.

Avoidant personality telah ada semenjak tahun 1900-an, namun belum dinamai seperti sekarang.      Pada tahun 1911, Bleuler (1950) mempelajari Schizophrenia dan variannya. Beberapa pasien menunjukkan gejala menghindari kontak dengan dunia nyata karena mereka harus menghindari hal-hal yang bisa menaikkan emosi mereka. Schneider menyebutkan bahwa penderita psikopat yang tidak merasa aman dengan lingkungannya dan tidak mempercayai diri sendiri adalah orang yang tidak puas dengan keadaan dirinya dan selalu menyalahkan diri sendiri ketika membuat sebuah kesalahan tapi perasaan-perasaan ini tidak ditunjukkan keluar. Pola schizoid dan avoidant selalu dianggap sama samapai kemudian Kretschmer (1921) melengkapi penjelasan mengenai avoidant personality yang kemudian membedakan schizoid dengan avoidant personality. Kretschmer membagi penarikan diri yang pasif dan aktif menjadi anaestetik dan hiperasestetik. Anaestetik kemudian berkembang menjadi schizoid yang memiliki ciri-ciri tidak sensitif, membosankan, dan kurang spontan. Hiperasestetik memiliki ciri penyendiri, emosional dan pencemas juga merupakan pribadi yang penyayang, pemalu, pemurung, tidak mempercayai orang lain.

Emosi avoidant personality adalah salah satu penampakan emosi yang membingungkan. Menderita karena tindakan dan kejadian, terjebak antara kebutuhan akan kasih sayang yang tinggi dan ketakutan akan penolakan serta rasa malu. Keadaan yang membingungkan serta emosional membuat individu avoidant personality menjadi kaku. Avoidant personality sulit mempercayai orang lain dan menganggap dirinya sendiri rendah. Mereka belajar untuk percaya melalui serangkaian pengalaman yang menyakitkan bahwa dunia ini tidak bersahabat. Mereka juga hanya punya sedikit kemampuan sosial dan kualitas personal yang menjadi bekal mereka mendapatkan kebahagiaan hidup. Mereka mengantisipasi segala kemungkinan diremehkan dan dihina dimana pun mereka berada. Mereka mengembangkan kemampuan untuk waspada terhadap segala ancaman-ancaman yang mereka harapkan.

Perkembangan biologis kebanyakan penderita gangguan kepribadian masih spekulatif namun penelitian masih terus dilakukan. Karakter biologis tidak cukup berpengaruh terhadap perilaku penderita gangguan karena manusia bukanlah sepenuhnya masuk biologis. Perasaan tidak cakap yang dialami avoidant personality mempunyai dasar pada kematangan fisik. Perkembangan yang lambat dan tidak pasti mengundang cibiran dari teman sebaya dan ini membuat avoidant personality merasa inferior.

Interaksi antara aspek-aspek biologis dan sosial dalam menghasilkan sifat-sifat organisme secara keseluruhan. Avoidant personality memiliki dasar karakteristik yaitu perasaan malu atau ragu terhadap kemampuan diri. Pada anak dua tahun yang tingkah lakunya dibatasi tumbuh menjadi anak yang pendiam dan menghindari interaksi sosial.

Avoidant akan memperlihatkan kewaspadaan berlebihan dan kekacauan emosional. Secara kognitif, kecenderungan mereka untuk mengalihkan pikiran mereka sendiri dari rasa sakit dan malu dengan mengobok-obok kognisi mereka sendiri akan menyebabkan mereka menjadi kacau, dan tidak logis. Dalam hubungan interpersonal, mereka cenderung mengembangkan delusi-delusi paranoid sebagai suatu defence terhadap sikap orangtua yang terlalu kritis yang telah diinternalisasikan pada masa kanak-kanak. Akibatnya, ketakutan mereka akan kritik berkembang menjadi delusi-delusi kejaran/paranoid dimana dia percaya kalau orang lain selalu mencari-cari kesalahan mereka dan berencana membeberkan kekurangan mereka atau secara rahasia merencanakan serangan yang menghina habis-habisan.

– Nursuci Syachdan –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s